Selasa, 17 Januari 2017

Pengalaman Sang Calon Pemimpin

Pesta Rakyat

Sebagai negara demokrasi, aspirasi rakyat menjadi hal yang penting bagi Indonesia. Mengapa demikian? Hakikatnya, demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dimana kedaulatan ada di tangan rakyat. Artinya adalah bahwa dalam suatu negara demokrasi, rakyat memegang kekuasaan tertinggi.

Pada februari 2017, pesta rakyat warga DKI Jakarta akan berlangsung. Sudah resmi ada tiga pasangan yang mengajukan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Jakarta periode 2017-2022. Mereka terdiri dari pasangan Agus Harimurti dan Sylviana Murni di nomor urut satu, Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama dan Djarot Saiful Hidayat di nomor urut dua, serta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di nomor urut tiga.


Tiga pasangan calon gubernur (calgub) DKI Jakarta datang dari berbagai macam background. Ahok dan Djarot adalah pasangan gubernur dan wakil gubernur pada periode sebelumnya. Mereka memutuskan untuk kembali maju pada bursa pemilihan umum memperebutkan kursi nomor satu DKI. Sementara Anies adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era kepemimpinan Presiden Jokowidodo sekaligus juru bicara pada masa kampanyenya. Terakhir, Agus adalah anak sulung dari Presiden RI ke-6 yang menjabat selama dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia tercatat sebagai perwira menengah di TNI AD dengan pangkat Mayor Infanteri.

Dengan berbagai macam latar belakang, masing-masing calon gubernur saling beradu visi-misi. Mereka menebar janji demi meraup simpati warga DKI. Namun menurut pandangan pribadi saya, ada hal yang janggal disini. Agus adalah satu-satunya kandidat yang sama sekali belum memiliki pengalaman berpolitik. Tidak diragukan lagi bahwa Agus tinggal di lingkungan politik yang sangat kental. Namun, untuk benar-benar berkecimpung di dunia politik, ia dianggap masih minim pengalaman.

Hal ini tak hanya terjadi di pemilihan umum calgub DKI saja. Kejadian serupa juga terjadi di Pemilihan Umum Bupati dan Wakil bupati Bekasi. Ahmad Dhani Prasetyo yang selama ini terkenal sebagai musisi tiba-tiba mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kota Bekasi. Hal ini membuat banyak banyak menggelengkan kepala. Bagaimana bisa para pemain baru dengan mudahnya maju dalam memperebutkan takhta nomor satu di daerahnya. Tidak berlebihan rasanya jika menyebut fenomena ini sebagai tren calon pemimpin prematur.

Rekam Jejak Politik

Saya percaya bahwa ketika menjadi pemimpin, seseorang diamanahkan beban di pundaknya untuk menciptakan keharmonisan bagi orang orang di bawahnya. Tegas, lugas dan cepat adalah sebuah keharusan. Pemimpin bukanlah posisi untuk belajar, namun mempraktekan segala ilmu yang telah ia dapatkan. Lalu bagaimana jika orang yang akan memimpin belum memiliki pengalaman yang memadai?

Dikutip dari Pemilu.com, Persyaratan mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur, minimal harus mempunyai dukungan 10 persen di provinsi dengan DPT sampai 2 juta orang, 8,5 persen, di provinsi dengan DPT antara 2 juta sampai 6 juta orang, 7,5 persen di daerah dengan DPT antara 6 juta sampai 12 juta, dan 6,5 persen di provinsi dengan DPT di atas 12 juta orang. Berpendidikan minimal SMA, dan berusia minimal 30 tahun.

Apakah itu persyaratan itu saja cukup? Masih ada tanda tanya besar di benak saya. Jika ingin melamar ke sebuah perusahaan untuk posisi manager saja menetapkan persyaratan lima tahun minal pengalaman di bidang yang sama, lalu bagaimana bisa seseorang maju dan memegang kekuasan politik di suatu daerah tanpa memiliki rekam jejak dan pengalaman yang sedikit atau bahkan tidak memiliki penalaman sama sekali?

Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan bisa karena biasa. Semua orang dapat menjadi ahli pada bidangnya dengan cara belajar. Namun guru yang paling berharga adalah pengalaman. Dunia politik bukanlah dunia yang sederhana, banyak intrik dan taktik yang digunakan para pemainnya.


Jika dikaitkan dengan pesta rakyat, maka sudah seharusnya rakyat diberikan pilihan yang terbaik dari yang terbaik sebagai calon pemimpinnya. Jangan sampai rakyat dibodohi dengan ketenaran dan janji palsu semata. Kehidupan lima tahun mendatang akan menjadi taruhannya.

Jhon F. Kennedy pernah mengatakan “Kepemimpinan dan pembelajaran sangat diperlukan untuk satu sama lain.” Ada baiknya KPU mempertimbangkan beberapa syarat tambahan demi terlahirnya pemimpin harapan masyarakat. Salah satunya adalah penetapan minimal pengalaman berpolitik dan rekap dari rekam jejak karir politik agar mencegah lahirnya pemimpin prematur yang tidak sesuai dengan harapan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar