Rabu, 28 Desember 2016

Jatuh Bangun Sang Aktivis Media

Ditengah transformasi media digital, membuat isi informasi sudah tidak lagi berimbang dan memiliki nilai. Kondisi inilah yang menggelisahkan Nina Mutmainah Armando, dosen sekaligus aktivis media yang menuntut konten siaran bermutu dan beretika.

Nina dan Media Anak
Ujian Akhir Semester hampir berakhir membangun suasana sepi di kampus Depok. Seusai mengawas, Nina kembali ke ruangannya yang berada di lantai dua Gedung Koentjaraningrat, FISIP UI. Selain mengajar komunikasi, mengurus Yayasan Pendidikan Media Anak (YPMA) menjadi fokusnya saat ini.

Pengalamannya di Komisi Penyiaran Indonesia sebagai komisioner pada tahun 2010-2013, Nina dan beberapa teman lainnya mendirikan Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran untuk menuntut isi siaran televisi yang independen dan berpihak pada masyarakat, tanpa campur tangan pemilik.

Keterlibatan Nina pada literasi media bermula ketika kuliah di jurusan Komunikasi FISIP UI. Sejak masih tercatat menjadi mahasiswa aktif, Nina telah terlibat di berbagai kegiatan sosial. Nina menjabat sebagai Kepala Sekolah TBB (Taman Belajar dan Bermain). “Dulu di belakang FISIP itu tempat pembuangan sampah, banyak pemulung yang ada disana. Mereka mempunyai anak-anak yang tidak bisa bersekolah TK karena berbagai keterbatasnnya. Sementara masuk SD ada tesnya, baca, tulis, dan hitungan ini membuat mereka gak bisa sekolah,” jelas Nina. Hal inilah yang membuat Nina dan kawan-kawan terketuk dan mencoba memfasilitasi anak-anak tersebut hingga masuk Sekolah Dasar.

Nina sudah menjadi asisten dosen sejak tahun ketiga masa kuliahnya. Ia mengajar mata kuliah yang membahas hal mikro seperti Sistem Penyiaran, Psikologi Komunikasi, Sosiologi Komunikasi, serta Media dan Isu-Isu Sosial Budaya. “Seiring perjalanan, saya menjadi menangani hal yang makro seperti media anak. Pada saat itu perlindungan terhadap anak belum banyak yang menangani karena dapat dikatakan itu dunia yang sunyi. Orangnya hanya sedikit dan tidak komersil. Saya memilih untuk terjun kesana,” jelas wanita kelahiran tahun 1964 ini.
 
Nina Mutmainah Armando. Sumber: salamonline.com
Pada tahun 2004, bersama dengan beberapa aktivis, Nina mendirikan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) yang bertujuan untuk melindungi anak dari pengaruh negatif media, memberdayakan posisi orangtua dan anak dalam interaksi dengan media dengan cara menumbuhkan sikap kritis terhadap media, dan meningkatkan kualitas media (khususnya TV) untuk anak.

Nina dan kawan kawan menghadapi banyak tantangan dalam membesarkan YPMA. Mereka mendanai administrasi yang dibutuhkan dengan sistem swadaya. “Dulu YPMA didanai oleh UNICEF selama dua tahun, tapi setelah itu kami harus mandiri. Jadi jika saya berbicara di seminar atau menulis artikel, itu uangnya masuk ke YPMA tidak masuk ke pribadi, dengan itu YPMA bisa hidup,” jelas mantan Ketua Program D3 Komunikasi Universitas Indoensia.

“Saya melakukan ini karena masyarakat. Saya merasa memiliki hutang pada masyarakat dan apa yang saya lakukan ini biasa saja, masih banyak orang yang berkorban jauh lebih banyak dibandingkan saya,” tambah Nina.

Komisioner
Selain menjadi pendiri YPMA, wanita kelahiran Jakarta ini juga pernah menjadi Komisioner KPI Pusat bidang isi siaran pada tahun 2010-2013. Sebagai istri dari akademisi dan aktivis Ade Armando, terpilihnya Nina di kursi tertinggi KPI tentu dikaitkan dengan peran suaminya yang pernah menjabat komisioner di periode 2004-2007. Namun gosip ini tidak merisaukan Nina dengan menunjukkan kredibilitasnya yang terjun di dunia komunikasi penyiaran.

Posisi komisioner ini tidak terlepas dengan gratifikasi dari pihak industri. Berbagai macam bentuk “hadiah” dengan nilai harga yang bervariasi, justru dikembalikannya kepada si pemberi dan ia laporkan kepada KPK. Mulai dari amplop yang berisi sejumlah uang, bingkisan lebaran, hingga dompet mahal pernah diterimanya. Sikap tegas dan kerasnya terhadap regulasi siaran, Nina pun mendapat julukan buruk dari pelaku televisi. Tak mau ambil pusing, Nina justru menjadikan cemooh tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap dirinya.
 
Seleksi komisioner KPI. Sumber: Hidayatullah.com
Berada di posisi penting institusi negara, Nina memanfaatkan pengaruhnya untuk duduk bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dibicarakan bersama Wakil Menteri Mendikbud Fasli Jalal. Mulanya usulan untuk menjadikan literasi media sebagai kurikulum dan mata pelajaran pada siswa SMP dan SMP telah disetujui dan disepakati oleh wakil Muhammad Nuh tersebut. Sayangnya, semua rencana program tersebut mandek ditengah jalan karena digesernya Fasli Jalal dari kursi orang nomer dua Kemendikbud di era presiden SBY Jilid II. 

Independensi KPI
Merasa diamanahkan oleh masyarakat untuk menjadi “watch dog” bagi media siaran, ibu dua anak ini mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa pihak. Ketegasannya terhadap isi siaran dan memberi sanksi terhadap program-program yang “nakal”, membuat geram pihak industri dan pemilik sehingga ia tidak diloloskan oleh Komisi I DPR RI dalam periode berikutnya. Selain itu, Nina harus kehilangan sahabatnya yang bekerja di salah satu stasiun televisi karena ia pernah menegur program acara sahabatnya yang berteman sejak lama tersebut. Meski mereka tak lagi bertegur sapa hingga sekarang, tak membuat persoalan bagi Nina karena ia merasa digaji oleh rakyat, maka ia harus berpihak kepada publik atas hak informasi dan hiburan yang sehat.

Apresiasi Kepada Masyarakat
Segala hal yang dilakukan olehnya, Nina merasa bahwa ini merupakan wujud apresiasinya kepada masyarakat karena Nina tumbuh dan besar karena hidup dan menjadi bagian darinya. Terlebih saat ia menjabat sebagai komisioner KPI, ia merasa mendapatkan amanat dari masyarakat dan didanai oleh pajak rakyat, Nina beranggapan harus bekerja sepenuh hati dan melakukan yang terbaik untuk banyak orang.


Senin, 14 November 2016

Berani Usaha StartUp


Berani Usaha Startup


            Pepatah mengatakan “lebih baik menjadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah.” Kata-kata tersebut mungkin menjadi salah satu motivasi dari pengusaha muda di seluruh Indonesia untuk membangun bisnis startup. Di kawasan Jakarta Selatan, satu dari sekian banyak perusahaan startup  berdiri. Tepatnya di kecamatan Jagakarsa, Production House (PH) bernama Sonia Digita telah terbentuk selama kurang lebih satu setengah tahun. Perusahaan yang digawangi oleh tiga orang founder jebolan Broadcasting Universitas Indonesia ini bergerak di bidang produksi dan post produksi video dari mulai dokumentasi hingga Television Commercial (TVC). Salah satu penggagas Sonia Digita adalah Aby Hasbi Rizki. Pria dua puluh lima tahun ini selain seorang founder, ia juga turun tangan langsung sebagai director dalam setiap produksi Sonia Digita. Aby bekerja sama dengan Siti Rahayu sebagai produser dan Katon Prawoto sebagai editor membangun usaha startup bersama - sama.
Sumber: facebook.com/soniadigita

Dikutip dari techinasia.com, startup adalah sebuah perusahaan rintisan, umumnya disebut startup (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan - perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah “startup” menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com, di mana dalam periode tersebut banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.
Dari definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa bisnis startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis startup ini lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut. Bisnis startup berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000.
            Bagi Aby, pengalaman adalah bekal utama untuk terjun langsung menjadi seorang wiraswasta dan berbisnis startup. “Saya dulu bekerja di PH Younameit Production selama kurang lebih dua tahun. Mulai dari posisi bawah sebagai Production Assisten (PA) belajar mengenal environment PH dari internal dan eksternal. Lambat laun saya dipercaya menjadi line produser dan membuat budgeting. Disana saya mulai bertemu dengan client seperti Telkomsel, Fresh Growth, Pertamina dan saya mengamati bagaimana sih caranya meyakinkan serta membuat mereka nyaman bekerja sama dengan kita,” jelas pria yang melanjutkan pendidikannya di jurusan Marketing Komunikasi Universitas Mercubuana ini.
Sumber: Dokumentasi Narasumber

            Beberapa pengusaha muda yang memulai bisnis stratup tentu tak akan terelakkan dari kegagalan, kerugian atau bahkan kesulitan mendapatkan client karena belum memiliki nama yang besar. Namun hal ini tidak menjadi penghalang bagi Aby untuk terus bertahan. Menurutnya, persaingan harga adalah hal utama yang terus menjadi pertimbangan besar besar bagi calon client untuk menggunakan jasanya. “Ada PH yang berani ngasih harga wedding clip cuma dua sampai tiga juta, tapi disisi lain ada PH yang minimal bikin wedding clip 60 juta. Itu ada gap yang sangat jelas disana. Kita kadang juga harus mengurangi harga untuk mendapatkan client tapi jangan sampe ga untung apalagi sampe nombok. Karena harga juga menentukan identitas PH."
            Jika sebuah koneksi telah terbangun dan hasil yang dihasilkan baik, meskipun perusahaan startup maka client yang loyal akan terus berdatangan. Terbukti Sonia Digita kini telah menjadi vendor tetap Alfamart dan menangani perusahaan besar seperti  Telkomsel, Stella dan Redd+.  Dari Alfamart, Sonia Digita dapat memproduksi 10 video dalam setahun belakangan dan menjadi suntikan dana bagi perusahaan. “Alhamdulillah dari satu setengah tahun belakangan, Sonia digita sudah mendapatkan revenue sekitar 500 juta,” terang Aby. Ia menjelaskan bahwa usahanya dan teman-teman meskipun menjalani jatuh bangun, namun dengan niat yang kuat pasti akan menemui titik terang.
Sumber: Dokumentasi Narasumber

            Pria yang telah berkecimpung di dunia audio visual semenjak tahun 2009 ini mengungkapkan bahwa keyakinan diri, koneksi dan komunikasi menjadi kunci dari kesuksesannya membangun Sonia Digita. Bagi sebuah startup, komunikasi dengan client dan membuat hubungan yang akrab menjadi sangat penting untuk membuat client loyal terhadap perusahannya. “Kalo misalnya client datengnya jarang – jarang dan ga mau balik ke kita untuk servis yang sama, berarti ada yang salah sama cara jualan kita, cara dagang kita atau karya kita. Buat saya adalah hal yang membanggakan ketika kita bisa membangun jaringan yang baik dan merawat client sehingga dia loyal sama kita.” Aby lebih suka menyebut hasil dari videonya sebagai karya dibandingkan dengan menyebutnya sebagai hasil output karena menurutnya, semua hasil pekerjaannya adalah karya seni yang harus bisa dinikmati oleh orang lain.
            Masih di kawasan Jakarta Selatan sebuah perusahaan Digital Agency startup lainnya beridiri. “Meskipun masih kecil, tapi seenggaknya saya jadi bos disini, saya bisa mengambil keputusan dan tidak terikat oleh peraturan perusahaan,” ucap Faratodi Salahuddin atau yang akrab disapa Odi. Pria yang kini aktif di kepengurusan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini mengungkapkan alasannya memilih menjadi wiraswasta dan memulai bisnis stratup.
Sumber: www.suka.studio.com

Sementara itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menjadi wadah para pengusaha yang didirikan pada tanggal 10 Juni 1972. Pendirian organisasi ini dilandasi semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan pemuda, karena pada saat itu tidak banyak kaum muda yang bercita – cita menjadi pengusaha. Namun kini, keadaan tak lagi sama. Kalangan muda Indonesia memiliki jiwa kompetitif yang tinggi untuk berbondong-bondong mendirikan usaha dalam berbagai macam bidang khususnya yang bersinggungan dengan teknologi atau yang kini akrab disebut usaha Startup.
            Di kawasan Cirangjang, Senopati, Jakarta Selatan kantor digital creative milik Odi berdiri. Meskipun suasana siang itu sangat terik, namun kantor yang dicat dominan biru itu memiliki suasana asri dengan banyak pepohonan rimbun, kolam ikan serta kolam renang. Pria yang aktif di keanggotaan HIPMI sejak tahun 2015 ini mengaku bahwa keanggotaannya di HIPMI menjadi jembatan yang sangat baik bagi bisnis StartUp yang ia jalani. “Dulu saya kuliah di luar negeri, pas sampe kesini gak punya temen jadi saya memutuskan untuk ikut organisai, ya HIPMI ini.” Digital agency milik Odi mempunyai servis di bidang branding, visual design, website dan aplikasi development ini baru terbentuk selama lima bulan.
Sumber: www.sukastudio.com

              Perkembangan startup di Indonesia bisa dikatakan cukup pesat dan menggembirakan. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak founder - founder (pemilik) startup baru bermunculan. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 startup lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang semakin naik dari tahun ke tahun tentunya merupakan suatu lahan basah untuk mendirikan sebuah startup.
            Odi menganggap bahwa bisnis startup adalah lahan yang sangat perlu digarap oleh anak muda. Ia berpendapat bahwa jika lahan pekerjaan semakin sedikit, maka ciptakanlah lapangan pekerjaan itu sendiri. “Idealnya di Indonesia terdapat 10% lahan untuk pengusaha baru bisa dibilang negara maju, namun saat ini hanya 2% saja yang terisi,” jelasnya dengan raut wajah meyakinkan. Odi berkata bahwa membuat bisnis adalah hal yang menantang dan tempat untuk berkembang lebih jauh lagi. Sekarang, pria yang sedang fokus usaha rempah-rempah dan creative media ini merasakan bahwa dengan berorganisasi dapat menjadi fasilitator yang tepat untuk mengembangkan usaha.
           Di Indonesia sekarang ini telah banyak berdiri komunitas founder - founder startup. Seperti Bandung Digital Valley (bandungdigitalvalley.com), Jogja Digital Valley (jogjadigitalvalley.com), Ikitas (www.ikitas.com) Inkubator Bisnis di Semarang, Stasion (stasion.org) wadah bagi startup lokal kota Malang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan adanya komunitas ini tentunya akan memudahkan para founder untuk saling sharing, membimbing bahkan untuk menjaring investor. Para founder dapat pula mengikuti kompetisi yang diadakan oleh beberapa perusahaan seperti Telkom untuk menjadi investor mereka.
            Hal yang paling utama untuk mendirikan startup adalah tim yang solid, karena dengan adanya tim yang solid bisa memunculkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Dengan ide dan eksekusi yang tepat, tentunya para founder tidak akan kesulitan menarik minat masyarakat maupun mencari investor.