Senin, 14 November 2016

Berani Usaha StartUp


Berani Usaha Startup


            Pepatah mengatakan “lebih baik menjadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah.” Kata-kata tersebut mungkin menjadi salah satu motivasi dari pengusaha muda di seluruh Indonesia untuk membangun bisnis startup. Di kawasan Jakarta Selatan, satu dari sekian banyak perusahaan startup  berdiri. Tepatnya di kecamatan Jagakarsa, Production House (PH) bernama Sonia Digita telah terbentuk selama kurang lebih satu setengah tahun. Perusahaan yang digawangi oleh tiga orang founder jebolan Broadcasting Universitas Indonesia ini bergerak di bidang produksi dan post produksi video dari mulai dokumentasi hingga Television Commercial (TVC). Salah satu penggagas Sonia Digita adalah Aby Hasbi Rizki. Pria dua puluh lima tahun ini selain seorang founder, ia juga turun tangan langsung sebagai director dalam setiap produksi Sonia Digita. Aby bekerja sama dengan Siti Rahayu sebagai produser dan Katon Prawoto sebagai editor membangun usaha startup bersama - sama.
Sumber: facebook.com/soniadigita

Dikutip dari techinasia.com, startup adalah sebuah perusahaan rintisan, umumnya disebut startup (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan - perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah “startup” menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com, di mana dalam periode tersebut banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.
Dari definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa bisnis startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis startup ini lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut. Bisnis startup berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000.
            Bagi Aby, pengalaman adalah bekal utama untuk terjun langsung menjadi seorang wiraswasta dan berbisnis startup. “Saya dulu bekerja di PH Younameit Production selama kurang lebih dua tahun. Mulai dari posisi bawah sebagai Production Assisten (PA) belajar mengenal environment PH dari internal dan eksternal. Lambat laun saya dipercaya menjadi line produser dan membuat budgeting. Disana saya mulai bertemu dengan client seperti Telkomsel, Fresh Growth, Pertamina dan saya mengamati bagaimana sih caranya meyakinkan serta membuat mereka nyaman bekerja sama dengan kita,” jelas pria yang melanjutkan pendidikannya di jurusan Marketing Komunikasi Universitas Mercubuana ini.
Sumber: Dokumentasi Narasumber

            Beberapa pengusaha muda yang memulai bisnis stratup tentu tak akan terelakkan dari kegagalan, kerugian atau bahkan kesulitan mendapatkan client karena belum memiliki nama yang besar. Namun hal ini tidak menjadi penghalang bagi Aby untuk terus bertahan. Menurutnya, persaingan harga adalah hal utama yang terus menjadi pertimbangan besar besar bagi calon client untuk menggunakan jasanya. “Ada PH yang berani ngasih harga wedding clip cuma dua sampai tiga juta, tapi disisi lain ada PH yang minimal bikin wedding clip 60 juta. Itu ada gap yang sangat jelas disana. Kita kadang juga harus mengurangi harga untuk mendapatkan client tapi jangan sampe ga untung apalagi sampe nombok. Karena harga juga menentukan identitas PH."
            Jika sebuah koneksi telah terbangun dan hasil yang dihasilkan baik, meskipun perusahaan startup maka client yang loyal akan terus berdatangan. Terbukti Sonia Digita kini telah menjadi vendor tetap Alfamart dan menangani perusahaan besar seperti  Telkomsel, Stella dan Redd+.  Dari Alfamart, Sonia Digita dapat memproduksi 10 video dalam setahun belakangan dan menjadi suntikan dana bagi perusahaan. “Alhamdulillah dari satu setengah tahun belakangan, Sonia digita sudah mendapatkan revenue sekitar 500 juta,” terang Aby. Ia menjelaskan bahwa usahanya dan teman-teman meskipun menjalani jatuh bangun, namun dengan niat yang kuat pasti akan menemui titik terang.
Sumber: Dokumentasi Narasumber

            Pria yang telah berkecimpung di dunia audio visual semenjak tahun 2009 ini mengungkapkan bahwa keyakinan diri, koneksi dan komunikasi menjadi kunci dari kesuksesannya membangun Sonia Digita. Bagi sebuah startup, komunikasi dengan client dan membuat hubungan yang akrab menjadi sangat penting untuk membuat client loyal terhadap perusahannya. “Kalo misalnya client datengnya jarang – jarang dan ga mau balik ke kita untuk servis yang sama, berarti ada yang salah sama cara jualan kita, cara dagang kita atau karya kita. Buat saya adalah hal yang membanggakan ketika kita bisa membangun jaringan yang baik dan merawat client sehingga dia loyal sama kita.” Aby lebih suka menyebut hasil dari videonya sebagai karya dibandingkan dengan menyebutnya sebagai hasil output karena menurutnya, semua hasil pekerjaannya adalah karya seni yang harus bisa dinikmati oleh orang lain.
            Masih di kawasan Jakarta Selatan sebuah perusahaan Digital Agency startup lainnya beridiri. “Meskipun masih kecil, tapi seenggaknya saya jadi bos disini, saya bisa mengambil keputusan dan tidak terikat oleh peraturan perusahaan,” ucap Faratodi Salahuddin atau yang akrab disapa Odi. Pria yang kini aktif di kepengurusan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini mengungkapkan alasannya memilih menjadi wiraswasta dan memulai bisnis stratup.
Sumber: www.suka.studio.com

Sementara itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menjadi wadah para pengusaha yang didirikan pada tanggal 10 Juni 1972. Pendirian organisasi ini dilandasi semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan pemuda, karena pada saat itu tidak banyak kaum muda yang bercita – cita menjadi pengusaha. Namun kini, keadaan tak lagi sama. Kalangan muda Indonesia memiliki jiwa kompetitif yang tinggi untuk berbondong-bondong mendirikan usaha dalam berbagai macam bidang khususnya yang bersinggungan dengan teknologi atau yang kini akrab disebut usaha Startup.
            Di kawasan Cirangjang, Senopati, Jakarta Selatan kantor digital creative milik Odi berdiri. Meskipun suasana siang itu sangat terik, namun kantor yang dicat dominan biru itu memiliki suasana asri dengan banyak pepohonan rimbun, kolam ikan serta kolam renang. Pria yang aktif di keanggotaan HIPMI sejak tahun 2015 ini mengaku bahwa keanggotaannya di HIPMI menjadi jembatan yang sangat baik bagi bisnis StartUp yang ia jalani. “Dulu saya kuliah di luar negeri, pas sampe kesini gak punya temen jadi saya memutuskan untuk ikut organisai, ya HIPMI ini.” Digital agency milik Odi mempunyai servis di bidang branding, visual design, website dan aplikasi development ini baru terbentuk selama lima bulan.
Sumber: www.sukastudio.com

              Perkembangan startup di Indonesia bisa dikatakan cukup pesat dan menggembirakan. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak founder - founder (pemilik) startup baru bermunculan. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 startup lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang semakin naik dari tahun ke tahun tentunya merupakan suatu lahan basah untuk mendirikan sebuah startup.
            Odi menganggap bahwa bisnis startup adalah lahan yang sangat perlu digarap oleh anak muda. Ia berpendapat bahwa jika lahan pekerjaan semakin sedikit, maka ciptakanlah lapangan pekerjaan itu sendiri. “Idealnya di Indonesia terdapat 10% lahan untuk pengusaha baru bisa dibilang negara maju, namun saat ini hanya 2% saja yang terisi,” jelasnya dengan raut wajah meyakinkan. Odi berkata bahwa membuat bisnis adalah hal yang menantang dan tempat untuk berkembang lebih jauh lagi. Sekarang, pria yang sedang fokus usaha rempah-rempah dan creative media ini merasakan bahwa dengan berorganisasi dapat menjadi fasilitator yang tepat untuk mengembangkan usaha.
           Di Indonesia sekarang ini telah banyak berdiri komunitas founder - founder startup. Seperti Bandung Digital Valley (bandungdigitalvalley.com), Jogja Digital Valley (jogjadigitalvalley.com), Ikitas (www.ikitas.com) Inkubator Bisnis di Semarang, Stasion (stasion.org) wadah bagi startup lokal kota Malang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan adanya komunitas ini tentunya akan memudahkan para founder untuk saling sharing, membimbing bahkan untuk menjaring investor. Para founder dapat pula mengikuti kompetisi yang diadakan oleh beberapa perusahaan seperti Telkom untuk menjadi investor mereka.
            Hal yang paling utama untuk mendirikan startup adalah tim yang solid, karena dengan adanya tim yang solid bisa memunculkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Dengan ide dan eksekusi yang tepat, tentunya para founder tidak akan kesulitan menarik minat masyarakat maupun mencari investor.