Senin, 05 Maret 2018

Memasuki Lebih Dalam Dunia Investigasi Jurnalisme


Pada  tahun 2002, sebuah surat kabar harian Amerika Serikat, The Boston Globes,  merilis sebuah rubik investigasi yang menggemparkan. Investigasi tersebut mengungkapkan skandal pelecehan seksual yang terjadi kepada anak di bawah umur oleh pastur di Boston. Jelas hal ini mengundang kontroversi dari berbagai pihak karena tak hanya mengungkapkan sisi gelap institusi keagamaan tertua dan terbesar di dunia namun investigasi ini juga menguak kembali traumatis mendalam yang dialami oleh korbannya selama bertahum-tahun.

Dengan berbagai dinamika dan tantangan yang terjadi dalam penguakan fakta yang dialami oleh para jurnalis The Boston Globes, pada tahun 2015 sutradara kenamaan Tom McCarthy mengadaptasi kejadian ini kedalam sebuah film yang berjudul “Spotlight”. Pada tahun 2016, film berdurasi 129 menit ini berhasil menyabet penghargaan paling bergengsi di dunia perfilman Hollywood yaitu Academy Awards atau Oscar dengan kategori sebagai “Best Picture”. Nama Spotlight sendiri diambil dari rubik investigasi dalam harian tersebut. Rubik ini memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melakukan riset, penyelidikan, wawancara dan observasi sebelum akhirnya dapat menerbitkan sebuah artikel yang komprehensif dan terpercaya.


Fenomena bola salju mungkin adalah hal yang paling tepat dalam menggambarkan kasus ini. Pada awalnya hanya terdapat satu nama pastor yang diidentifikasi sebagai pelaku pelecehan seksual. Namun seiring berjalannya waktu, fakta-fakta lainnya mulai terungkap  dan berkembang sehingga  menjadi 90 nama pastor sebagai pelaku dan menyebar di seluruh Boston. Yang lebih membuat miris, para pastor yang dianggap suci oleh masyarakat melakukan hal yang merusak moral anak-anak ini tanpa rasa bersalah dan menganggap bahwa yang mereka lakukan bukanlah tindakan yang terlarang.

Diluar berbagai macam konflik yang terjadi dalam film tersebut, hal lain yang patut ditekankan dan menjadi perhatian dari film ini adalah bagaimana cara jurnalis melakukan investigasi untuk mengungkapkan fakta yang pada akhirnya mempengaruhi pandangan masyarakat secara masif. Hal yang patut diacungi jempol dalam film yang dibintangi oleh Mark Ruffalo ini adalah bagaimana para jurnalis bekerjasama untuk mengungkapkan sebuah kebenaran dalam kasus yang dianggap tabu. Kesolidan Tim Spotlight terlihat dari bagaimana mereka dapat membagi porsi kerja kepada masing-masing anggota lalu merunut kejadian secara linear. Selain itu, kegigihan dari tim ini juga dapat menjadi panutan dan tolak ukur bagi para jurnalis diseluruh belahan dunia. Sulitnya mengumpulkan data karena banyak korban yang menolak untuk diwawancarai, penolakan yang datang dari pihak gereja, arsip gereja yang disembunyikan hingga ancaman yang datang secara personal tak menyurutkan semangat dari Tim Spotlight untuk mengungkapkan fakta yang ada dan tetap berpegang pada independensi berita.

Jika kita merujuk pada sembilan elemen jurnalisme yang dituangkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers), salah satu poin yang penting adalah loyalitas jurnalis terhadap warga masyarakat. Terlihat jelas dalam film ini bagaimana setiap karakter yang ada berusaha mengungkapkan fakta serta melakukan verifikasi yang mendalam agar dapat memenuhi tanggung jawab moral yang ada pada pekerjaannya. Mereka rela bekerja hingga larut dan tanpa mengenal hari libur karena sadar bahwa boleh jadi ini adalah kasus pelecehan paling kontroversial yang pernah ada. Loyalitas para jurnalis Spotlight juga tergambar jelas pada satu scene penuh makna ketika salah seorang jurnalis Spotlight datang ke tempat penyimpanan arsip gereja yang disembunyikan. Disana ia ditanya oleh seorang lelaki yang merupakan manager tempat penyimpanan arsip tersebut “dimana tanggung jawab moral jurnalis jika mengungkapkan kasus semacam ini?” dan dengan tegas jurnalis tersebut menimpali “dimana tanggung jawab moral jurnalis jika tidak mengungkapkan kasus semacam ini?”

Contoh lain yang patut dijadikan acuan dalam dunia jurnalistik adalah bagaimana para jurnalis bekerja sesuai dengan perannya beriringan dengan profesionalitas yang dipegang secara teguh. Kasus yang diangkat adalah isu yang sangat sensitive karena melibatkan agama mayoritas di Amerika Serikat. Namun, isu tersebut tidak serta merta membuat para jurnalis menjustifikasi golongan tertentu, mereka justru tetap menjaga netralitasnya dengan tetap berlaku sopan dan tidak membangun opini individual sehingga netralitas tetap terjaga. Sikap professional yang sama juga ditunjukan pada saat mewawancari korban. Setiap korban memiliki kondisi emosional yang berbeda-beda setelah kejadian mengerikan tersebut. Disini para jurnalis Spotlight memang dituntut untuk menggali informasi sebanyak banyaknya. Namun rasa kemanusiaan harus tetap terpelihara dengan menunjukan rasa simpati kepada para korban yang memiliki rasa traumatic tinggi untuk menceritakan pengalamannya.

Film Spotlight sendiri adalah karya luar biasa yang sudah semestinya menjadi role model bagi para jurnalis. Apresiasi yang tinggi bagi mereka yang bekerja secera loyal dan mengedepankan nilai kemanusiaan demi kepentingan masyarakat. Film ini sangat layak menjadi pembelajaran untuk melakukan langkah konkrit investigasi jurnalistik.