Pada tahun 2002, sebuah surat kabar harian Amerika
Serikat, The Boston Globes, merilis sebuah rubik investigasi yang
menggemparkan. Investigasi tersebut mengungkapkan skandal pelecehan seksual
yang terjadi kepada anak di bawah umur oleh pastur di Boston. Jelas hal ini
mengundang kontroversi dari berbagai pihak karena tak hanya mengungkapkan sisi
gelap institusi keagamaan tertua dan terbesar di dunia namun investigasi ini
juga menguak kembali traumatis mendalam yang dialami oleh korbannya selama
bertahum-tahun.
Dengan
berbagai dinamika dan tantangan yang terjadi dalam penguakan fakta yang dialami
oleh para jurnalis The Boston Globes,
pada tahun 2015 sutradara kenamaan Tom McCarthy mengadaptasi kejadian ini
kedalam sebuah film yang berjudul “Spotlight”.
Pada tahun 2016, film berdurasi 129 menit ini berhasil menyabet penghargaan
paling bergengsi di dunia perfilman Hollywood yaitu Academy Awards atau Oscar
dengan kategori sebagai “Best Picture”.
Nama Spotlight sendiri diambil dari
rubik investigasi dalam harian tersebut. Rubik ini memerlukan waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melakukan riset, penyelidikan,
wawancara dan observasi sebelum akhirnya dapat menerbitkan sebuah artikel yang
komprehensif dan terpercaya.
Fenomena
bola salju mungkin adalah hal yang paling tepat dalam menggambarkan kasus ini.
Pada awalnya hanya terdapat satu nama pastor yang diidentifikasi sebagai pelaku
pelecehan seksual. Namun seiring berjalannya waktu, fakta-fakta lainnya mulai
terungkap dan berkembang sehingga menjadi 90 nama pastor sebagai pelaku dan
menyebar di seluruh Boston. Yang lebih membuat miris, para pastor yang dianggap
suci oleh masyarakat melakukan hal yang merusak moral anak-anak ini tanpa rasa
bersalah dan menganggap bahwa yang mereka lakukan bukanlah tindakan yang
terlarang.
Diluar
berbagai macam konflik yang terjadi dalam film tersebut, hal lain yang patut
ditekankan dan menjadi perhatian dari film ini adalah bagaimana cara jurnalis
melakukan investigasi untuk mengungkapkan fakta yang pada akhirnya mempengaruhi
pandangan masyarakat secara masif. Hal yang patut diacungi jempol dalam film
yang dibintangi oleh Mark Ruffalo ini adalah bagaimana para jurnalis
bekerjasama untuk mengungkapkan sebuah kebenaran dalam kasus yang dianggap tabu.
Kesolidan Tim Spotlight terlihat dari
bagaimana mereka dapat membagi porsi kerja kepada masing-masing anggota lalu
merunut kejadian secara linear. Selain itu, kegigihan dari tim ini juga dapat
menjadi panutan dan tolak ukur bagi para jurnalis diseluruh belahan dunia.
Sulitnya mengumpulkan data karena banyak korban yang menolak untuk
diwawancarai, penolakan yang datang dari pihak gereja, arsip gereja yang
disembunyikan hingga ancaman yang datang secara personal tak menyurutkan
semangat dari Tim Spotlight untuk
mengungkapkan fakta yang ada dan tetap berpegang pada independensi berita.
Jika
kita merujuk pada sembilan elemen jurnalisme yang dituangkan Bill Kovach dan
Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The
Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect
(New York: Crown Publishers), salah satu poin yang penting adalah loyalitas
jurnalis terhadap warga masyarakat. Terlihat jelas dalam film ini bagaimana
setiap karakter yang ada berusaha mengungkapkan fakta serta melakukan
verifikasi yang mendalam agar dapat memenuhi tanggung jawab moral yang ada pada
pekerjaannya. Mereka rela bekerja hingga larut dan tanpa mengenal hari libur
karena sadar bahwa boleh jadi ini adalah kasus pelecehan paling kontroversial
yang pernah ada. Loyalitas para jurnalis Spotlight
juga tergambar jelas pada satu scene penuh makna ketika salah seorang jurnalis Spotlight datang ke tempat penyimpanan
arsip gereja yang disembunyikan. Disana ia ditanya oleh seorang lelaki yang
merupakan manager tempat penyimpanan
arsip tersebut “dimana tanggung jawab moral jurnalis jika mengungkapkan kasus
semacam ini?” dan dengan tegas jurnalis tersebut menimpali “dimana tanggung
jawab moral jurnalis jika tidak
mengungkapkan kasus semacam ini?”
Contoh
lain yang patut dijadikan acuan dalam dunia jurnalistik adalah bagaimana para
jurnalis bekerja sesuai dengan perannya beriringan dengan profesionalitas yang
dipegang secara teguh. Kasus yang diangkat adalah isu yang sangat sensitive
karena melibatkan agama mayoritas di Amerika Serikat. Namun, isu tersebut tidak
serta merta membuat para jurnalis menjustifikasi golongan tertentu, mereka
justru tetap menjaga netralitasnya dengan tetap berlaku sopan dan tidak
membangun opini individual sehingga netralitas tetap terjaga. Sikap
professional yang sama juga ditunjukan pada saat mewawancari korban. Setiap
korban memiliki kondisi emosional yang berbeda-beda setelah kejadian mengerikan
tersebut. Disini para jurnalis Spotlight memang
dituntut untuk menggali informasi sebanyak banyaknya. Namun rasa kemanusiaan
harus tetap terpelihara dengan menunjukan rasa simpati kepada para korban yang
memiliki rasa traumatic tinggi untuk menceritakan pengalamannya.
Film
Spotlight sendiri adalah karya luar
biasa yang sudah semestinya menjadi role
model bagi para jurnalis. Apresiasi yang tinggi bagi mereka yang bekerja
secera loyal dan mengedepankan nilai kemanusiaan demi kepentingan masyarakat.
Film ini sangat layak menjadi pembelajaran untuk melakukan langkah konkrit investigasi
jurnalistik.
