Jatuh
hati tak melulu berbicara mengenai pasangan, kali ini saya akan membicarakan
kota yang membuat hati tak dapat berpaling dari suasananya. Beberapa
bulan lalu tepatnya 15 September 2016, saya dan keluarga memutuskan untuk pergi
berlibur ke Jogjakarta. Kami berencana untuk tinggal selama empat hari disana. Ibu,
ayah, kakak dan saya dari jauh-jauh hari sepakat memutuskan membeli tiket
pesawat penerbangan pertama yaitu jam 06.30 karena tidak mau menyia-nyiakan
waktu. Setelah sibuk mempersiapkan koper dari hari sebelumnya, kami memanggil
taksi pukul 04.00 dan siap meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta.
Ah senangnya kembali kesini lagi!
Begitulah kalimat pertama yang terlintas di kepala saya. Kurang lebih satu jam
saya dan keluarga menepuh perjalanan jalur udara dari Jakarta ke Jogja akhirnya
kami sampai di Bandara Adi Sucipto. Saya tak bisa menyembunyikan rasa gembira
saat menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan gudegnya ini. Kedua bola mata saya mengamati
bagaimana suasana klasik tak lekang oleh peradaban modern. Tidak lupa saya
mengabadikan momen para peninggalan leluhur yg masih dapat dirasakan hampir
disetiap sudut kota.
Pagi itu kami dijemput oleh Pak Hendi dari bandara. Pria
yang berbadan kurus tinggi dengan logat khas Jawa yang masih sangat kental ini
dengan sigap mengantarkan kami sekeluarga ke hotel. Hotel yang kami tuju adalah
Hotel Arjuna yang terletak di kawasan Malioboro, tepatnya Jalan Mangkubumi.
Letaknya dapat dikatakan sangat strategis karena hanya butuh jalan kaki sekitar
lima menit meuju Pasar Maliboro dan tiga menit untuk sampai ke Tugu Jogja.
Sesampainya di hotel, kami beristirahat sekitar satu jam sebelum kemudian
memutuskan untuk langsung melancong.
Setelah berunding bersama orang tua dan atas saran Pak Hendi,
kami menjatuhkan tujuan pertama pada Merapi Lava Tour! Saya sangat semangat dan
penasaran karena akhir-akhir ini Lava Tour menjadi primadona bagi para
wisatawan. Kurang lebih sekitar satu jam perjalanan kami habiskan untuk sampai
di kaki Gunung Merapi. Beruntungnya kami, saat itu cuaca sedang cerah sehingga
terlihat pemandangan Gunung Merapi yang menjulang gagah.
Lava tour adalah wisata mengelilingi kaki gunung merapi
dengan mobil jeep dan dibagi atas beberapa jenis perjalanan yaitu jalur pendek,
jalur sedang, dan jalur panjang. Yang membedakannya adalah jarak tempuh dan
harga yang dipatok. Kami memutuskan memilih jalur sedang yang kurang lebih
memakan waktu satu setengah jam dengan harga Rp.500.000 per mobil, sudah
termasuk driver jeep. Lumayan mahal, tapi tenang saja, satu mobil dapat diisi
oleh empat sampai lima orang. Jadi bagi wisatawan yang kesini bersama teman
dapat membagi tarifnya.
Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, saat memulai
perjalanan mengelilingi kaki gunung merapi, jalanannya sangat rusak. Jalanan
yang disuguhkan belum diaspal sama sekali, batu-batu besar terhampar di tengah
jalan dan kemiringan jalan yang lebih dari 45 derajat! Tapi justru inilah yang
menjadikan Lava Tour unik. Dengan menggunakan jeep, jalanan seperti ini memacu
adrenalin kami. Terlebih lagi driver jeep yang kami tumpangi sangat jahil. Ia
kerap kali sengaja memilih jalan yang sangat rusak padahal ada jalan yang lebih
baik di sebelahnya (mungkin memang diharamkan mengambil jalur yang mulus pada
saat lava tour).
Selama perjalanan, ada beberapa pemberhentian yang kami
singgahi. Diantaranya adalah Museum Merapi dan Batu Wajah Merapi. Jika kalian
bayangkan bahwa Museum Merapi layaknya Museum Fatahilah, hal itu salah besar.
Museum Merapi hanya berbentuk sebuah rumah tak terlalu besar yang pada tahun
2010 terkena letusan Gunung Merapi. Letusan itu menyebabkan dindingnya rusak
dan keropos termakan lahar panas. Di
depan Museum, kami disambut dengan kerangka tulang sapi yang diawetkan. Cukup
menyeramkan untuk permulaan. Ketika memasuki bagian dalam museum, banyak benda
yang diawetkan seperti kerangka tv, korek, kursi, dan barang-barang kecil
lainnya. Namun yang menarik perhatian saya adalah lembaran Al-Quran yang
selamat dan utuh padahal telah diserbu lahar panas. Ini membuka mata saya atas
kebesaran Tuhan memang nyata adanya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit kami habiskan di Museum
Merapi dan puas berselfie ria, kami melanjutkan perjalan ke Batu Wajah Merapi.
Awalnya saya penasaran dengan namanya. Batu Wajah Merapi terdengar unik di
telinga. Namun sesaat setelah sampai, saya langsung paham mengapa batu ini
dinamai wajah merapi. Batu ini beukuran sangat besar, tingginya 3/4 panjang
tiang bendera sekolahan. Masyarakat sekitar mengatakan ini adalah hasil
muntahan dari letusan Merapi yang kemudian membentuk wajah manusia. Mitos yang
berkembang adalah wajah yang terbentuk merupakah wajah Mbah Marijan, sang juru
kunci Merapi yang meninggal karena terkena letusannya. Tak mau menyia-nyiakan
kesempatan, saya segera mengeluarkan handphone dan berpose di depannya.
Haripun beranjak gelap tak terasa perjalanan di Lava Tour sudah berakhir, kami memutuskan untuk pulang ke
hotel. Bersantap malam di angkringan merupakan hal yang wajib saat berkunjung
ke Jogja. Harga nasi perbungkus hanya berkisar antara Rp. 3.000 sampai Rp 5.000
saja. Namun porsinya kecil, jadi butuh 2-3 bungkus bagi saya untuk merasa
kenyang.
Makan di angkringan ditemani oleh segelas kopi arang atau
kopi jos adalah hal yang sangat saya rindukan. Jogja kembali berhasil membuat
saya jatuh cinta berkali-kali dengan semua kesederhanaannya. Jika ada
orang yang bertanya, kota mana yang membuat saya selalu ingin kembali?
Jogjakarta adalah jawabannya.



