Pesta Rakyat
Sebagai negara
demokrasi, aspirasi rakyat menjadi hal yang penting bagi Indonesia. Mengapa
demikian? Hakikatnya, demokrasi
adalah sebuah sistem pemerintahan dimana kedaulatan ada di tangan rakyat. Artinya
adalah bahwa dalam suatu negara demokrasi, rakyat memegang kekuasaan tertinggi.
Pada
februari 2017, pesta rakyat warga DKI Jakarta akan berlangsung. Sudah resmi ada
tiga pasangan yang mengajukan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil
gubernur Jakarta periode 2017-2022. Mereka terdiri dari pasangan Agus
Harimurti dan Sylviana Murni di nomor urut satu, Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama
dan Djarot Saiful Hidayat di nomor urut dua, serta Anies Baswedan dan Sandiaga
Uno di nomor urut tiga.
Tiga pasangan calon gubernur (calgub) DKI Jakarta datang dari
berbagai macam background. Ahok dan Djarot adalah pasangan gubernur dan wakil
gubernur pada periode sebelumnya. Mereka memutuskan untuk kembali maju pada
bursa pemilihan umum memperebutkan kursi nomor satu DKI. Sementara Anies adalah
mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era kepemimpinan Presiden Jokowidodo sekaligus juru bicara
pada masa kampanyenya. Terakhir, Agus adalah anak sulung dari Presiden RI ke-6
yang menjabat selama dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia tercatat sebagai
perwira menengah di TNI AD dengan pangkat Mayor Infanteri.
Dengan berbagai macam latar belakang, masing-masing calon
gubernur saling beradu visi-misi. Mereka menebar janji demi meraup simpati
warga DKI. Namun menurut pandangan pribadi saya, ada hal yang janggal disini.
Agus adalah satu-satunya kandidat yang sama sekali belum memiliki pengalaman
berpolitik. Tidak diragukan lagi bahwa Agus tinggal di lingkungan politik yang
sangat kental. Namun, untuk benar-benar berkecimpung di dunia politik, ia
dianggap masih minim pengalaman.
Hal ini tak hanya terjadi di pemilihan umum calgub DKI saja.
Kejadian serupa juga terjadi di Pemilihan Umum Bupati dan Wakil bupati Bekasi.
Ahmad Dhani Prasetyo yang selama ini terkenal sebagai musisi tiba-tiba
mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kota Bekasi. Hal ini membuat banyak
banyak menggelengkan kepala. Bagaimana bisa para pemain baru dengan mudahnya
maju dalam memperebutkan takhta nomor satu di daerahnya. Tidak berlebihan
rasanya jika menyebut fenomena ini sebagai tren calon pemimpin prematur.
Rekam Jejak Politik
Saya percaya bahwa ketika menjadi pemimpin, seseorang
diamanahkan beban di pundaknya untuk menciptakan keharmonisan bagi orang orang
di bawahnya. Tegas, lugas dan cepat adalah sebuah keharusan. Pemimpin bukanlah
posisi untuk belajar, namun mempraktekan segala ilmu yang telah ia dapatkan.
Lalu bagaimana jika orang yang akan memimpin belum memiliki pengalaman yang
memadai?
Dikutip dari Pemilu.com, Persyaratan mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur,
minimal harus mempunyai dukungan 10 persen di provinsi dengan DPT sampai 2 juta
orang, 8,5 persen, di provinsi dengan DPT antara 2 juta sampai 6 juta orang,
7,5 persen di daerah dengan DPT antara 6 juta sampai 12 juta, dan 6,5 persen di
provinsi dengan DPT di atas 12 juta orang. Berpendidikan minimal SMA, dan
berusia minimal 30 tahun.
Apakah itu persyaratan itu saja cukup? Masih ada tanda tanya
besar di benak saya. Jika ingin melamar ke sebuah perusahaan untuk posisi
manager saja menetapkan persyaratan lima tahun minal pengalaman di bidang yang
sama, lalu bagaimana bisa seseorang maju dan memegang kekuasan politik di suatu
daerah tanpa memiliki rekam jejak dan pengalaman yang sedikit atau bahkan tidak
memiliki penalaman sama sekali?
Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan bisa karena biasa.
Semua orang dapat menjadi ahli pada bidangnya dengan cara belajar. Namun guru
yang paling berharga adalah pengalaman. Dunia politik bukanlah dunia yang
sederhana, banyak intrik dan taktik yang digunakan para pemainnya.
Jika dikaitkan dengan pesta rakyat, maka sudah seharusnya
rakyat diberikan pilihan yang terbaik dari yang terbaik sebagai calon
pemimpinnya. Jangan sampai rakyat dibodohi dengan ketenaran dan janji palsu
semata. Kehidupan lima tahun mendatang akan menjadi taruhannya.
Jhon F. Kennedy pernah mengatakan “Kepemimpinan dan
pembelajaran sangat diperlukan untuk satu sama lain.” Ada baiknya KPU mempertimbangkan beberapa syarat tambahan demi terlahirnya pemimpin harapan
masyarakat. Salah satunya adalah penetapan minimal pengalaman berpolitik dan
rekap dari rekam jejak karir politik agar mencegah lahirnya pemimpin prematur
yang tidak sesuai dengan harapan.







