Minggu, 05 Februari 2017

Memori Gunung Merapi

Jatuh hati tak melulu berbicara mengenai pasangan, kali ini saya akan membicarakan kota yang membuat hati tak dapat berpaling dari suasananya. Beberapa bulan lalu tepatnya 15 September 2016, saya dan keluarga memutuskan untuk pergi berlibur ke Jogjakarta. Kami berencana untuk tinggal selama empat hari disana. Ibu, ayah, kakak dan saya dari jauh-jauh hari sepakat memutuskan membeli tiket pesawat penerbangan pertama yaitu jam 06.30 karena tidak mau menyia-nyiakan waktu. Setelah sibuk mempersiapkan koper dari hari sebelumnya, kami memanggil taksi pukul 04.00 dan siap meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta.

Ah senangnya kembali kesini lagi! Begitulah kalimat pertama yang terlintas di kepala saya. Kurang lebih satu jam saya dan keluarga menepuh perjalanan jalur udara dari Jakarta ke Jogja akhirnya kami sampai di Bandara Adi Sucipto. Saya tak bisa menyembunyikan rasa gembira saat menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan gudegnya ini. Kedua bola mata saya mengamati bagaimana suasana klasik tak lekang oleh peradaban modern. Tidak lupa saya mengabadikan momen para peninggalan leluhur yg masih dapat dirasakan hampir disetiap sudut kota.

Pagi itu kami dijemput oleh Pak Hendi dari bandara. Pria yang berbadan kurus tinggi dengan logat khas Jawa yang masih sangat kental ini dengan sigap mengantarkan kami sekeluarga ke hotel. Hotel yang kami tuju adalah Hotel Arjuna yang terletak di kawasan Malioboro, tepatnya Jalan Mangkubumi. Letaknya dapat dikatakan sangat strategis karena hanya butuh jalan kaki sekitar lima menit meuju Pasar Maliboro dan tiga menit untuk sampai ke Tugu Jogja. Sesampainya di hotel, kami beristirahat sekitar satu jam sebelum kemudian memutuskan untuk langsung melancong.




Setelah berunding bersama orang tua dan atas saran Pak Hendi, kami menjatuhkan tujuan pertama pada Merapi Lava Tour! Saya sangat semangat dan penasaran karena akhir-akhir ini Lava Tour menjadi primadona bagi para wisatawan. Kurang lebih sekitar satu jam perjalanan kami habiskan untuk sampai di kaki Gunung Merapi. Beruntungnya kami, saat itu cuaca sedang cerah sehingga terlihat pemandangan Gunung Merapi yang menjulang gagah.

Lava tour adalah wisata mengelilingi kaki gunung merapi dengan mobil jeep dan dibagi atas beberapa jenis perjalanan yaitu jalur pendek, jalur sedang, dan jalur panjang. Yang membedakannya adalah jarak tempuh dan harga yang dipatok. Kami memutuskan memilih jalur sedang yang kurang lebih memakan waktu satu setengah jam dengan harga Rp.500.000 per mobil, sudah termasuk driver jeep. Lumayan mahal, tapi tenang saja, satu mobil dapat diisi oleh empat sampai lima orang. Jadi bagi wisatawan yang kesini bersama teman dapat membagi tarifnya.


Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, saat memulai perjalanan mengelilingi kaki gunung merapi, jalanannya sangat rusak. Jalanan yang disuguhkan belum diaspal sama sekali, batu-batu besar terhampar di tengah jalan dan kemiringan jalan yang lebih dari 45 derajat! Tapi justru inilah yang menjadikan Lava Tour unik. Dengan menggunakan jeep, jalanan seperti ini memacu adrenalin kami. Terlebih lagi driver jeep yang kami tumpangi sangat jahil. Ia kerap kali sengaja memilih jalan yang sangat rusak padahal ada jalan yang lebih baik di sebelahnya (mungkin memang diharamkan mengambil jalur yang mulus pada saat lava tour).




Selama perjalanan, ada beberapa pemberhentian yang kami singgahi. Diantaranya adalah Museum Merapi dan Batu Wajah Merapi. Jika kalian bayangkan bahwa Museum Merapi layaknya Museum Fatahilah, hal itu salah besar. Museum Merapi hanya berbentuk sebuah rumah tak terlalu besar yang pada tahun 2010 terkena letusan Gunung Merapi. Letusan itu menyebabkan dindingnya rusak dan keropos termakan lahar panas.  Di depan Museum, kami disambut dengan kerangka tulang sapi yang diawetkan. Cukup menyeramkan untuk permulaan. Ketika memasuki bagian dalam museum, banyak benda yang diawetkan seperti kerangka tv, korek, kursi, dan barang-barang kecil lainnya. Namun yang menarik perhatian saya adalah lembaran Al-Quran yang selamat dan utuh padahal telah diserbu lahar panas. Ini membuka mata saya atas kebesaran Tuhan memang nyata adanya.








Setelah kurang lebih dua puluh menit kami habiskan di Museum Merapi dan puas berselfie ria, kami melanjutkan perjalan ke Batu Wajah Merapi. Awalnya saya penasaran dengan namanya. Batu Wajah Merapi terdengar unik di telinga. Namun sesaat setelah sampai, saya langsung paham mengapa batu ini dinamai wajah merapi. Batu ini beukuran sangat besar, tingginya 3/4 panjang tiang bendera sekolahan. Masyarakat sekitar mengatakan ini adalah hasil muntahan dari letusan Merapi yang kemudian membentuk wajah manusia. Mitos yang berkembang adalah wajah yang terbentuk merupakah wajah Mbah Marijan, sang juru kunci Merapi yang meninggal karena terkena letusannya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya segera mengeluarkan handphone dan berpose di depannya.


Haripun beranjak gelap tak terasa perjalanan di Lava Tour sudah berakhir, kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Bersantap malam di angkringan merupakan hal yang wajib saat berkunjung ke Jogja. Harga nasi perbungkus hanya berkisar antara Rp. 3.000 sampai Rp 5.000 saja. Namun porsinya kecil, jadi butuh 2-3 bungkus bagi saya untuk merasa kenyang.


Makan di angkringan ditemani oleh segelas kopi arang atau kopi jos adalah hal yang sangat saya rindukan. Jogja kembali berhasil membuat saya jatuh cinta berkali-kali dengan semua kesederhanaannya. Jika ada orang yang bertanya, kota mana yang membuat saya selalu ingin kembali? Jogjakarta adalah jawabannya.

Selasa, 17 Januari 2017

Pengalaman Sang Calon Pemimpin

Pesta Rakyat

Sebagai negara demokrasi, aspirasi rakyat menjadi hal yang penting bagi Indonesia. Mengapa demikian? Hakikatnya, demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dimana kedaulatan ada di tangan rakyat. Artinya adalah bahwa dalam suatu negara demokrasi, rakyat memegang kekuasaan tertinggi.

Pada februari 2017, pesta rakyat warga DKI Jakarta akan berlangsung. Sudah resmi ada tiga pasangan yang mengajukan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Jakarta periode 2017-2022. Mereka terdiri dari pasangan Agus Harimurti dan Sylviana Murni di nomor urut satu, Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama dan Djarot Saiful Hidayat di nomor urut dua, serta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di nomor urut tiga.


Tiga pasangan calon gubernur (calgub) DKI Jakarta datang dari berbagai macam background. Ahok dan Djarot adalah pasangan gubernur dan wakil gubernur pada periode sebelumnya. Mereka memutuskan untuk kembali maju pada bursa pemilihan umum memperebutkan kursi nomor satu DKI. Sementara Anies adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era kepemimpinan Presiden Jokowidodo sekaligus juru bicara pada masa kampanyenya. Terakhir, Agus adalah anak sulung dari Presiden RI ke-6 yang menjabat selama dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia tercatat sebagai perwira menengah di TNI AD dengan pangkat Mayor Infanteri.

Dengan berbagai macam latar belakang, masing-masing calon gubernur saling beradu visi-misi. Mereka menebar janji demi meraup simpati warga DKI. Namun menurut pandangan pribadi saya, ada hal yang janggal disini. Agus adalah satu-satunya kandidat yang sama sekali belum memiliki pengalaman berpolitik. Tidak diragukan lagi bahwa Agus tinggal di lingkungan politik yang sangat kental. Namun, untuk benar-benar berkecimpung di dunia politik, ia dianggap masih minim pengalaman.

Hal ini tak hanya terjadi di pemilihan umum calgub DKI saja. Kejadian serupa juga terjadi di Pemilihan Umum Bupati dan Wakil bupati Bekasi. Ahmad Dhani Prasetyo yang selama ini terkenal sebagai musisi tiba-tiba mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kota Bekasi. Hal ini membuat banyak banyak menggelengkan kepala. Bagaimana bisa para pemain baru dengan mudahnya maju dalam memperebutkan takhta nomor satu di daerahnya. Tidak berlebihan rasanya jika menyebut fenomena ini sebagai tren calon pemimpin prematur.

Rekam Jejak Politik

Saya percaya bahwa ketika menjadi pemimpin, seseorang diamanahkan beban di pundaknya untuk menciptakan keharmonisan bagi orang orang di bawahnya. Tegas, lugas dan cepat adalah sebuah keharusan. Pemimpin bukanlah posisi untuk belajar, namun mempraktekan segala ilmu yang telah ia dapatkan. Lalu bagaimana jika orang yang akan memimpin belum memiliki pengalaman yang memadai?

Dikutip dari Pemilu.com, Persyaratan mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur, minimal harus mempunyai dukungan 10 persen di provinsi dengan DPT sampai 2 juta orang, 8,5 persen, di provinsi dengan DPT antara 2 juta sampai 6 juta orang, 7,5 persen di daerah dengan DPT antara 6 juta sampai 12 juta, dan 6,5 persen di provinsi dengan DPT di atas 12 juta orang. Berpendidikan minimal SMA, dan berusia minimal 30 tahun.

Apakah itu persyaratan itu saja cukup? Masih ada tanda tanya besar di benak saya. Jika ingin melamar ke sebuah perusahaan untuk posisi manager saja menetapkan persyaratan lima tahun minal pengalaman di bidang yang sama, lalu bagaimana bisa seseorang maju dan memegang kekuasan politik di suatu daerah tanpa memiliki rekam jejak dan pengalaman yang sedikit atau bahkan tidak memiliki penalaman sama sekali?

Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan bisa karena biasa. Semua orang dapat menjadi ahli pada bidangnya dengan cara belajar. Namun guru yang paling berharga adalah pengalaman. Dunia politik bukanlah dunia yang sederhana, banyak intrik dan taktik yang digunakan para pemainnya.


Jika dikaitkan dengan pesta rakyat, maka sudah seharusnya rakyat diberikan pilihan yang terbaik dari yang terbaik sebagai calon pemimpinnya. Jangan sampai rakyat dibodohi dengan ketenaran dan janji palsu semata. Kehidupan lima tahun mendatang akan menjadi taruhannya.

Jhon F. Kennedy pernah mengatakan “Kepemimpinan dan pembelajaran sangat diperlukan untuk satu sama lain.” Ada baiknya KPU mempertimbangkan beberapa syarat tambahan demi terlahirnya pemimpin harapan masyarakat. Salah satunya adalah penetapan minimal pengalaman berpolitik dan rekap dari rekam jejak karir politik agar mencegah lahirnya pemimpin prematur yang tidak sesuai dengan harapan.




Selasa, 10 Januari 2017

Jalan Jalan di Kota Kembang

            Udara hari itu terasa begitu menyegarkan ketika dihirup. Setelah bertahun-tahun tidak berkunjung ke Bandung, hari ini saya dan lima teman lainnya memutuskan untuk berlibur selama dua hari di kota kembang. Perjalanan selama kurang lebih dua setengah jam sama sekali tidak mengurangi semangat kami untuk menjelajahi kota yang berjarak kurang lebih 150 KM dari Jakarta ini.
            Sekitar pukul 12 siang, kami tiba di Hotel Nirmala yang terletak di Jalan Cipaganti. Lokasi yang kami pilih bisa dikatakan strategis karena cukup dekat dari pusat keramaian seperti restoran dan tempat wisata. Namun begitu, Hotel Nirmala tidak berada persis di pinggir jalan raya sehingga saat malam tiba kami dapat beristirahat dengan tenang tanpa terganggu oleh bising dan hiruk pikuk kendaraan yang melintas.
            Sesampainya di hotel, kami segera mengeluarkan pakaian dari tas masing-masing. Kamar yang disediakan oleh hotel cukup luas sehingga kami masih sangat leluasa untuk menyusun barang-barang yang kami bawa. Tidak terlalu mewah namun cukup nyaman untuk disinggahi.

                                          Hotel Nirmala, Cipaganti
                                           Tampak luar, Hotel Nirmala

            Tidak ingin membuang waktu terlalu lama, saya dan teman-teman bergegas untuk keluar dan menikmati kesejukan kota yang memiliki ikon gedung sate ini. Tujuan pertama adalah Situ Patenggang. Tempat yang akhir-akhir ini sedang hits di social media ini membuat sangat penasaran karena pemandangannya dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan likes di instagram. Ya, social media jelas sangat berperan dalam keputusan kami memilih tempat wisata di Bandung kali ini.
            Pukul 14.00 kami berangkat dengan mobil melewati Jalan Raya Ciwidey. Setelah mengecek lewat aplikasi, total jarak yang harus ditempuh dari hotel sekitar 55 KM. Prediksi awal kami akan sampai di Situ Patenggang selama kurang lebih satu setengah jam. Setengah perjalanan berlalu dengan lancar, namun setengah perjalanannya selanjutnya membuat kami terkejut dan “sport jantung.”
                                           Jalur menuju Situ Patenggang

Jalan yang belum diaspal dan berbatu-batu menjadi medan yang harus kami hadapi. Tak hanya itu, kemiringan hingga 45 derajat dan berkelok-kelok di pinggir bukit membuat mobil kami sedikit kesulitan untuk menanjak. Saya berkali-kali mengingatkan teman yang sedang menyetir untuk hati-hati karena jika mobil sampai berhenti ditengah jalan di bukit yang bahkan kami tak tahu namanya ini selesailah kita semua. Tak ada sinyal yang bisa kita gunakan untuk memanggil bantuan.
Perkiraan kami yang pada awalnya hanya satu setengah jam, meleset menjadi dua jam lebih untuk sampai ke Situ Patenggang. Hampir sama seperti jarak tempuh kembali ke Jakarta. Sesampainya di Situ Patenggang kami lumayan kelelahan karena rute yang sulit meskipun telah menyetir secara bergantian. Lelah membuat kami beristirahat selama sekitar 15 menit setelah memarkirkan mobil sebelum turun dari mobil dan berjalan kaki menuju gerbang masuk Situ Patenggang.
                                            Gerbang Situ Patenggang

Saat memasuki pintu gerbang, kami dikenakan biaya Rp. 10.000, per orang dan Rp. 15.000 untuk parkir mobil. Memasuki daerah wisata Situ Patenggang, kami dapat merasakan udara yang sangat sejuk, bisa dibilang dinginnya hampir sama dengan udara di Puncak. Pemandangan yang disajikan adalah danau yang sangat besar dengan pepohonan rimbun di sampingnya. Berada di belakang bukit membuat Situ Patenggang memiliki pemandangan yang sangat natural. Terdapat banyak saung-saung kecil yang disediakan untuk sekedar beristirahat, makan, atau berfoto. Kelelahan kami terbayar seketika dengan suasana yang tak biasa dinikmati di ibukota.

                                                Gambar 1, Situ Patenggang
                                                   Gambar 2, Situ Patenggang

Di tengah danau, ada penyewaan perahu yang bertarif Rp. 25.000 per tiga puluh menit. Perahu itu cukup untuk enam orang, kami memutuskan untuk naik secara bersamaan. Di tengah danau, udara semakin dingin sehingga saya harus memakai jaket yang sangat tebal. Cipratan air danau dan angin yang kencang membuat saya semakin kedinginan namun juga memberikan efek segar. Saya dapat merasakan suasana yang nyaman dan tenang, cocok untuk sejenak melarikan diri dari kesibukan ibukota.
Setelah kurang lebih dua setengah jam di Situ Patenggang, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Hari sudah mulai gelap dan kami harus lebih waspada melewati jalan yang panjang dan berliku-liku. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan kota Bandung dari atas bukit pada malam hari.
        Pukul 21.00 WIB kami tiba di hotel, namun karena perut yang kelaparan setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran yang bernama The Maja House. Lagi-lagi kami mengetahui informasi tempat ini dari social media. Restoran ini menyajikan makanan barat dan timur dengan harga yang lumayan terjangkau dibandingkan dengan restoran sejenis di Jakarta. Tak hanya itu, pemandangan malam hari dari lantai dua The Maja House menyajikan kerlap kerlip lampu kota Bandung. Kami beruntung datang pada cuaca bersahabat sehingga dapat melihat pemandangan Bandung dengan jelas.
                                                       The Maja House, Bandung
Keesokan harinya, kami siap untuk mengemas barang-barang. Ini adalah hari kedua sekaligus terakhir di Bandung. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami pergi ke daerah Lembang. Disana saya dan teman-teman pergi ke sebuah daerah wisata pacuan kuda yang bernama The Ranch. Beruntung jalan menuju sana tak semenantang ke Situ Patenggang, kami sampai dengan "mulus" di The Ranch hanya dalam waktu empat puluh lima menit saja.
Sesampainya di The Ranch pukul 11.00 WIB, matahari terasa terik namun udara terasa tetap sejuk. Kami memasuki gerbang utama The Ranch dan dikenai biaya sebasar Rp. 20.000 untuk parkir dan Rp. 15.000 untuk orang dewasa. Petugas The Ranch menyapa dengan ramah sembari menawarkan segelas susu segar yang dapat ditukarkan dengan tiket masuk. Ada beberapa varian rasa susu yang disajikan dingin sehingga membuat tenggorokan yang sudah kering menjadi segar kembali.
Pemandangan di depan mata adalah lapangan pacuan kuda yang sangat luas terhampar. Disana kita dapat menaiki kuda dengan tarif Rp. 30.000 per orang untuk sekali putaran dengan syarat penumpang tidak boleh memiliki berat badan lebih dari 90 kg. Sebelum naik kuda, kami ditawari memakai atribut koboi seperti topi dan rompi coklat.